Powered By Blogger

Laman

Rabu, 03 Juni 2009

Seputar NU

…….Banjarmasin merupakan lokasi muktamar yang ke 11, masalah furu’iyah menjadi seruan KH. Hasyim Asy’ari, dimana pada saat itu, perselisihan antara NU dan Muhamaddiyah menjadikan masalah furu’iyah seolah-olah menjadi pokok-yang harus kita menangkan demi kehormatan Kelompok.

Hal tersebut mendapatkan tanggapan dari KH. Hasyim Asy’ari, bahwa betapapun besar kepentingan kelompok itu,...apabila kehormatan Agama Islam dan Kemuliaan Rosulullah dicacimaki, maka tidak lain kita sebagai ummat islam harus merapatkan barian...

Seruan KH. Hasyim sangatlah diperlukan, karena pada saat itu, Ummat Islam sedang dicaci dan dihina oleh kalangan penjajah, dengan adanya pemberlakuan UU pencatatan perkawinan secara suka rela dan masalah warisan. Seruan KH. Hasyim ini disebabkan karena ummat islam pada berselisih yang meliputi :
1. Kelompok NU dengan Muhammadiyah
2. Persis dan Al-Irsyad

Perselisihan ini terjadi pada mei 1936, mereka masing-masing memegang fanatisme kelompok, sehingga apabila mereka telah menjatuhkan dan mengalahkan, meraka bangga. Namun ironinya mereka tidak tahu bahwa perdebatan masalah “ Khilafiyah Furu’iyah” bukan prinsip atau pokok agama.

Berdasarkan hal tersebut, menjelang Muktamar NU ke 12 di Malang KH. Hasyim mengeluarkan tulisan undang kepada seluruh lapisan golongan ummat Islam untuk hadir dalam muktamar :

.....Kemarilah tuan-tuan yang mulia, kemarilah. Kunjungilah permusyawaratan kami, marilah kita bermusyawarah tentang apa-apa yang terjadi baiknya agama dan ummat ; baik pun urusan akhirat dan dunianya, sebab dunia ini tempat mengusahakan akhirat dan kebijakan tergantung pula ata beresnya peri keduniaan,......

Seruan dari KH. Hasyim, ternyata membawa angin segar, dimana pada tahun 1927-1936 sudah tidak terdengar kegiatan kongres al-islam lagi, yang biasanya diprakrasai oleh sarikat Islam dan Muhammadiyah, seruan itu menghasilkan ” kembalinya persatuan dan kesatuan bagi ummat islam.”
Perkambangan NU yang dapat dicapai dalam masa ini adalah ” munculnya inisiatif untuk memperjuangankan kedaulatan negara, dengan mempelopori seruan untuk jihad melawan penjajah.” hal tersebut didasarkan pada persepsi bahwa ” sejarah masih dalam proses, karena itu kedaulatan negara dan bangsa haraus dipertahankan.
Ketika tahun 1945-an tentara sekutu (NICA), NU memanggil Cabang-cabang se-Jawa dan Madura untuk mengadakan rapat tentang ”penentuan sikap terhadap kedatangan tentara Sekutu (NICA).” pertemuan diadakan dikantor PBNU Bubutan Surabaya (21-22 Okt 1945, pim. KH. Hasyim) dengan hasil keputusan ”mengeluarkan subuah resolusi 1945”, resolusi ini dikenal dengan nama ” Resolusi Jihad ” hal ini memberikan inspirasi untuk berkobarnya perang 10 November 1945 di Surabaya, hal ini dikenal sebagai hari pahlawan.
Resolusi Jihad tersebut dipertegas, dalam Muktamar Umat Islam di Yogyakarta (7-8 Nop 1945). Resolusi jihat ini melahirkan Hizbullah dan Sabililah, adapun program kerja yang disusun oleh Hizbullah dan sabililah :
1. Memprkuat tentara Islam
2. Menghimpun dana untuk keperluan Jihad fisabililah
3. Pemusatan tenaga alim ulama dan kiyai sakti
4. Pembentukan dewan Pimpinan pertempuran

KIYAI SAKTI
Dalam peperangan ini kiyai menjadi tokoh yang sangat penting, Laskar-pejunag dan para tentara sebelum melaksanakan jihad merekan diharapkan untuk mampir ke kawedaan dalam rangka mengisi kekebalan tubuh kepada Kiyai Subki (90 th) untuk menuju ke semarang, surabaya dan ambarawa,
Wejangan kiyai subki ” Luruskan niat untuk memprtahankan agama, bangsa dan tanah air, ingat selalu pada Allah Swt, jangan menyleweng dari tujuan apalagi berbuat maksiat, dan kuatkanlah prsatuan kita, jika hendak kembali pulanag beramai-ramailah membaca syahadat”
Perjuangn NU inilah yang kemudian dikenal dengan konsep Ukhuwah Wathoniyah

NU DALAM PEMERINTAHAN dan PEMILU
Setelah negara aman dari penjajahan, dan kembalinan kepemimpinan negara dipimpin putra pertiwi (Ir. Sukarno) makan NU ikut ambil bagian dalam perjuangan politik kepemerintahan dengan mendirikan partai NU (1952), setelah keluar dari Masyumi.
Dalam pemilu 1955 NU mencapai prestasi gemilang dengan raihan suara 45 kursi, hal ini menegaskan bahwa perjuangan untuk memenagkan ideologi Islam, dalam hal ini mempunyai tiga pilar kekuatan besar yaitu : Ulama, Pesantren dan Politisi.
Hal-hal yang menjadikan Kampanya NU sukses :
1. Kampanya dalam bentuk Pengajian, dengan maksud mempererat ikatan antara ulama/kiyai dan santri, sehingga dalam bntuk seperti ini koordinasi tidak terlalu sulit karena bentuk pengajian adalam rutin.
2. Tema-tema kampanya sangat menarik dan menyejukan meliputi ” Pandangan agama dengan orientasi pada pembinaan ahlak danAspek-aspek sufisme (Tasyawuf) ”
3. Bentuk sandiwara (ketopark) dengan isian dara bayolan dan hiburan lagu-lagu islam beriram, jawa, dengan orientasi pada agama, iman, ahlaq dan Pemilu.

Pemilu 1971 NU masih menggunakan metode lama dalam berkampanya, dengan jargon ” semua pihak adalah kawan kecualai PKI ” dalam pemilu ini NU sangat kencang dalam memperjuangkan syariat Islam dalam bernegara dan bermasyarakat, tetapi tidakan terlalu ekstrim terhadap ideologi ini, dengan pertimbangan masalam pemahaman masyarakat tentang agama.
Data hasil pmilihan Umum 1955-1971 dan jumlah kursi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar