Powered By Blogger

Laman

Minggu, 23 Agustus 2009

Guru



Membaca puisi memang mengasikkan. Sebelum kalian membaca puisi , kalian harus memahami, menghayati dan menafsirkan puisi sebelum dibaca dinamakan menginterpretasikan puisi. Nah, pada pembelajaran ini kalian akan belajar membaca puisi dan mendiskusikan maknanya. Kalian diharapkan mampumenginterpretasikan puisi melalui gaya bahasa dan pilihan kata dengan kata yang mendukung.


GURU

Pengabdinmu sungguh menyatu

Bersama langkah perjuanganmu

Membasmi orng tak berilmu

Guru...

Ke mana pergi keberkahanmu bersamamu

Engkau sungguh pahlawan bangsa

Bersusah payah bekerja

Mengabdi pada kebesaran rakyat

Mewujudkan jerih payah rakyat

Mendidik tunas kemajuan rakyat

Menjadikan manusia selamat tipu muslihat

Guru...

Pantas engkau menyandang gelar

Karena berbagai gelarengkau yang menggelar

Tapi..., alangkah bodohnya kita yang selalu menghina

Membesarkan kepala, membusungkan dada

Berjalan congkak membohongi otak

Padahal...

Beliau pahlawan rakyat

Dan golongan yang munajat

Menyelamatkan orang-orang sesat

(karya Khoirurrohim)


Puisi dapat diiterpretasikan dengan memperhatikan penggunaan pilihan kata, gaya, bahasa dan kandungan makna. Puisi “Guru” hasil interpretasi ketiga hal tersebut sebagai berikut:

a. pilihan kata bernilai rasa semangat

Ada beberapa penggunaan pilihan kata yang khas. Kekhasan pilihan kata itu dipilih dengan dengan pertimbangan nilai rasa tertentu. Adapun pilihan kata yang khas dengan nilai rasa tertentu itu sebagai berikut.

Susah sedih

Pahlawan rakyat lebih merakyat

b. Gaya bahasa yang dipakai dalam puisi

Selain pilihan kata “Guru” khoirurrohim menggunakan gaya bahasa tertentu.

.

Pintaku

Tuhan

bila boleh memohon

jangan badan diberi sakit

bila boleh meminta

jangan hati menyimpan dendam

dan bila boleh mengiba

jangan batin dihimpit duka

sebab kutahu

jangan lidah dibengkokkan

jika ingin carikejujuran

P. Ratnawati Ishak

Paratis, Maros Sulsel

Mbah KH. Moh. Shiddiq

M. Noor Arifin Addimawi

Kamis, 20 Agustus 2009

surga

surga

Mata belum pernah melihat
kenikmatan menyatu
hati belum pernah merasakan
kau terahasia dari keberadaan

Bagimu diutuju setiap insan
Ada yang tuntas sampaai harapan
Ada yang terjungkal rayuan setan

Segala macam terpenuhi
Segala macam pesanan
Sang prmaisuri menghampiri
Sang bidadari yag belum tercemari
Itu sungguhan yang sangat kecil
Itu diberikan setiap insan

Yang selamat dari cengkraman
Memenuhi tuntunan Tuhan
Yang meninggalkan kemudharatan
yang beramal kebaikan
Yang berpegang keimanan
(Karya : Khoirurrohim)

Rabu, 19 Agustus 2009

Wajah

Wajah

Setiap wajah punya cerita. Setiap wajah mempunyai kesan yang berbeda. Ini pendapatku. Karena sebagian wajah yang kutemui memang bercerita tentang dirinya. Sebagian yang tidak bercerita, memberikan kesan melalui mimik mukanya. Sebagian yang lain, imajinasiku yang bercerita tentang mereka, dan sebagian sisanya, aku tidak perduli…mungkin.

Sembilan tahun yang lalu tepatnya. Aku masih ingat suasana tenang klinik bersalin itu. Klinik bersalin sederhana yang terletak di pinggir kota Jakarta.

Sebenarnya bangunan ini adalah sebuah rumah yang disulap menjadi klinik oleh pemiliknya. Luasnya kira kira hanya 140meter persegi dengan teras yang sempit. Untuk samapai kesana, aku harus berjalan kaki sekitar 500m melewati deretan panjang rumah sederhana dengan atap seng yang sudah berkarat di pinggirannya.

Sepertinya klinik ini diperuntukkan untuk mereka, masyarakat pinggiran. Saban hari selepas ashar, banyak ibu ibu duduk berbaris diruang tunggu. Mereka tidak semuanya hamil, ada juga yang mau berKB atau hanya sekedar check up.Ibu ibu dengan daster seadanya itu biasanya datang tidak sendiri. Mereka diantar oleh suaminya yang hanya bisa menunggu di luar pagar. Maklumlah, dengan ruang tunggu yang hanya 4X4meter tidak akan mampu menampung sekitar 25 ibu berserta suaminya.

Sedangkan di ruang tengah klinik, ada ruangan untuk berrsalinan, dan hanya berbatasan dengan tembok tripleks yang dicat putih, berjejer 8 ranjang yang diberi sekat tirai kain blacu sebagai ruang rawat inap. Selebihnya adalah dapur, kamar mandi dan kamar untuk perawat seperti aku.

Ibu bidan tidak tinggal di klinik. Ia dan keluarganya tinggal di sebuah rumah sekitar 3 km dari klinik. Ini yang membuat aku dan perawat yang lain kadang kelimpungan. Pasien hampir tidak pernah berhenti datang. Tidak perduli jam 2 subuh kalau sudah ada tanda tanda mau melahirkan, mereka akan mengetuk pintu dengan sekeras kerasnya. Sebenarnya aku dan teman teman perawat yang lain mampu menangani persalinan normal dan masalah masalah kecil lainnya. Tapi terkadang si pasien hanya mau ditangani oleh ibu bidan. Naasnya, bidan yang mereka harapkan sering tidak mau menerima telfon selepas jam sepuluh malam. Padahal menurut si pasien, ibu bidan berjanji siap siaga 24jam untuk mereka.

“Saya capek. Saya bukan robot. Saya butuh istirahat…” kata kata itu yang selalu ibu bidan lontarkan ketika kami mengeluh.

“Lalu, ibu bidan anggap kami apa? Kami berjaga 24 jam di klinik anda…”Pertanyaan itu juga yang selalu ingin kami lontarkan kepadanya setiap kami merasa lelah di posisi serba salah. Yah, tapi pertanyaan itu hanya jadi bahan gosip belaka diantara kami.

Saat Ramadhan tiba adalah saat yang paling sengsara. Ibu bidan tambah jarang di klinik dan nyaris tidak mau tahu urusan klinik.

“Masa gitu aja kamu nggak bisa tangani Wi?”

“Bukan begitu bu, Ibu Firda maunya ditangani sama ibu…”

“Kamu tau khan ini bulan puasa. Sebelas bulan yang lalu kita diberi kesempatan untuk cari uang. Sekarang bulan ramadhan, bulan puasa, bulan untuk cari pahala. Pinter pinternya kamu lah cari alasan ke ibu Firda….Sudah, saya mau masak untuk buka dulu”

Kalau sudah begini, siapa yang mau membatah ibu bidan, wanita karir yang selalu menyebut dirinya menomor satukan keluarga.

“Halo halo… Wi, jangan suruh bu Firda pindah klinik yah.Bujuk supaya dia mau melahirkan disitu saja. Itu untuk THR kamu bertiga. Klik!”

Setiap hari ada saja pasien yang pulang dengan kecewa. Mereka ingin ditangani oleh ibu bidan, bukan yang lain. Ibu bidan memang orang yang hebat. Wajahnya sangat ramah dan perhatian kepada setiap pasiennya. -Tapi tidak kepada kami para perawat-. Tangannya sangat dingin. Banyak asien yang puas ditangani oleh ibu bidan. Batuk, meriang sampai gatal gatal langsung hilang kalau sudah diperiksa dan diberi obat oleh ibu bidan. Mereka yang kenal baik dan menjadi langganan klinik ini, tidak mau ditangani oleh kami para perawat. Jangan ditolong persalinannya, untuk imunisasi pun mereka berat menyerahkan bayi mereka untuk kami suntik. Kecuali untuk ganti popok bayinya, mereka dengan ringan hati mempersilahkan. Keterlaluan!

Tapi tidak semua pasien bersikap begitu kepada kami. Pasien pasien yang anti kami biasanya pasien yang ekonominya mapan atau yang mempunyai fasilitas kesehatan di kantor tempat mereka bekerja.. Tandanya jelas sekali, mereka sering tersenyum kepada kami mengingatkan untuk membuatkan kwitansi biaya pengobatan.

Masalah seperti ini tidak akan terjadi pada pasien pasien yang tidak mampu. Salah satunya si tukang bakso…

Ia datang dua hari menjelang lebaran dengan luka sobek di lengan kirinya. Jam 7 lebih 5 menit, saat azan isya selesai dikumandangkan dari masjid di belakang klinik, seorang ibu berbadan tambun mengetuk pintu klinik dengan tenaga penuh. Aku kira ada yang mau melahirkan. Melihat pintu terbuka, ibu yang berbadan tambun itu segera melangkahkan kakinya masuk ke ruangan. Aku masih heran saat tubuhku terpaksa mengalah menyingkir ke belakang, mempersilahkan tubuh besar itu melewati pintu. Setelah si ibu itu masuk, aku baru lihat ada laki laki yang berjalan di belakangnya. Aku melihat darah menetes dari tangan kirinya.

Ternyata mereka adalah tetangga samping kontrakan. Umur si ibu aku taksir sekitar 50 tahun. Dari awal hingga mereka pamit pulang, ia tidak berhenti bercerita. Darinya aku tahu banyak siapa pasien yang berada di depanku

Namanya Margo, pekerjaanya tukang bakso keliling. Rencananya, besok pagi pagi sekali, ia mau pulang ke kampong halamannya Madiun. Menurut cerita si ibu, anak istrinya tinggal di kampung. Malam itu, sebenarnya akan menjadi malam terakhir ia mengumpulkan uang dengan berjualan bakso di bulan ramadhan. Hari yang naas, belum ada satu pun yang beli, gerobaknya tersandung balok dan terguling. Puluhan daging bulat itu jatuh ke jalan raya berhamburan kesana kemari. Kuah baksonya ludes terbuang, dan kompornya pun meledak.

Mendengar cerita ibu berbadan tambun itu, aku menanggapinya biasa-biasa saja. Kata ibu bidan, sebagian pasien memang pandai mengarang cerita pilu. Tujuannya cuma satu, membuat petugas medis iba lalu meringankan biaya pengobatanya.

Si ibu kembali bercerita tentang Margo. Tentang kehidupan sehari hari Margo yang sangat prihatin. Penghasilannya sebenarnya lumayan, tapi sebagai anak yang tertua, Margo harus menanggung nafkah ibu dan adik adiknya di kampung, belum lagi istri dan anak anaknya.. Uang hasil jualan baksonya hampir tidak pernah ia nikmati. –Hmm, dari mana ia ini tau sejauh itu tentang tetangganya?- Si ibu mengaku dititipkan uang untuk biaya pengobatannya. “Cuma dua puluh ribu suster. Ini uang terakhir yang Margo punya. Andai saja gerobaknya tidak terguling, mungin ia akan dapat uang malam ini. ”. Aku terpana melihat uang yang kumal yang kini sudah berada di atas meja. Pelan pelan pandangan aku alihkan ke arah si tukang bakso. Ia tertunduk dalam, meringkuk, mencoba menekuk nekuk tubuhnya agar tidak terlihat olehku. Aku heran, apa yang ia sungkankan dariku wahai tukang bakso. Aku pun miskin. Dengan jam kerja 24 jam, aku hanya dibayar dua ratus lima puluh ribu. Itu belum termasuk potongan potongan kalau aku melakukan kesalahan yang menurut ibu bidan fatal. Ya, sekali lagi, menurut ibu bidan saja. Adikku banyak, sekolah semua. Tidak terbayang girangnya ibuku saat tanggal muda. Dengan senyum malu malunya ia akan bertanya apakah aku sudah gajian.

“ Lukanya lumayan lebar yah pak. Harus dijahit…” Si bapak tukang bakso itu masih tertunduk. Perlahan ia angkat wajahnya dan berkata sangat pelan,

“ Uang saya hanya sedikit suster” Margo mengangkat wajahnya.

Hanya beberapa detik aku menatapnya.. Tiba tiba aku mersa pilu.Aku melihat ada kabut tipis di matanya. Bukan, kabut tipis itu bukan katarak. Aku melihat kesedihan yang begitu dalam dari laki laki kurus berkulit bersih ini.

Aku amati lemari kaca berisi puluhan ampul cairan obat. Semua tercatat dengan baik keluar masuknya obat. Pandangankku tertuju pada deretan ampul yang ada di sudut lemari. Aku mulai berhitung. Aduh, pasti tidak akan cukup uang si bapak untuk membayar obat biusnya. Belum lagi ia harus diberi antibiotik setelah dijahit. Kalau aku beri dengan cuma cuma, ibu bidan pasti akan tahu, gajiku bisa dipotong. Tidak bisa, gaji bulan ini tidak boleh dipotong lagi. Dua hari lagi lebaaran, aku sangat butuh uang untuk sedikit memeriahkan hari itu.

“Ehem. Pak, bapak kuat kalau tidak dibius? “ Aku memutuskan untuk tidak dibius saja. Aku bisa mengalihkan perhatiannya terhadap rasa sakit dengan obrolan ringan.

“Tidak apa suster”

Tanganku mulai bekerja.

Sudah berapa lama di Jakarta pak?. Hmm sekitar 2 tahun sus. Aduh…Sudah berapa putranya pak. Dua. Istri bapak juga berdagang? -Si bapak terdiam.Matanya terpejam. Aku tahu ia pasti lagi kesakitan-.

“Istri dan anaknya ada di Solo sus,” Si ibu tetangga bapak tukang bakso itu menyahut. “Dulu sih tinggal disini, tapi nggak kuat. Di Jakarta apa apa mahal katanya”

“Oo.. begitu. Sudah sekolah anaknya pak?” si tukang bakso itu tetap diam. Mungkin ia sangat kesakitan. Aku lihat mata si tukang bakso itu masih terpejam. Tapi bulu matanya basah. Tiba tiba bibirnya bergetar dan bulir bening yang sepertinya ia tahan dari tadi pun mengalir pelan pelan ke pipinya. Aku panik, takut pasienku pingsan karena tidak tahan sakit. Untunglah luka ditangannya tinggal membutuhkan satu jahitan lagi.

Suasana ruang periksa jadi hening. Si ibu itu pun ikut diam. Padahal aku menunggu cerita selanjutnya mengapa sesedih itu Margo menangis. Sampai mereka pamit pulang pun mereka tetap diam. Akhirnya, si ibu itu merogoh kantongnya sendiri untuk menambah biaya pengobatan. Itu sebenarnya juga masih kurang. Tapi biarlah, gajiku akan dipotong lagi.

Wis le, sing sabar sing sabar…”bisik ibu berbadan tambun itu kepada Margo.

Aku memang tidak mengenal siapa si bapak tukang bakso dengan ibu tetangganya itu. Ini pertama kali aku bertemu dengan mereka. Bila benar kata ibu bidan mereka berakting hanya untuk meringankan biaya pengobatan, maka aku nyakin mereka adalah aktor dan aktris yang sangat hebat. Dedi Mizwar harus tahu bakat mereka. Karena wajah si tukang bakso itu begitu tulus. Sorot matanya yang teduh terbanyang ia sosok yang sering mengalah. Entahlah mengalah untuk apa atau siapa. Mungkin mengalah dengan nasib. Memang, nasib terkadang begitu melelahkan untuk dilawan. Sedangkan wajah si ibu tetangganya itu begitu keibuan. Air mukanya begitu terlihat kalau ia peduli.

Sampai sekarang, setiap aku melihat tukang bakso keliling, aku selalu ingat wajah Margo dan ibu tetanggannya. Entahlah, apakah sekarang mereka masih mengingat wajahku bila mereka melihat seorang perawat …

Tanpa Kekasih

Tanpa Kekasih

Setalah genap sebulan aku jadian dengan Bayu, aku semakin yakin kalau aku nggak salah pilih dan benar-benar sudah menemukan belahan jiwaku, cinta sejatiku, cahaya hidupku, Bayu adalah segalanya bagiku. Aku mencinta dia dan akan selalu menyayangi dia untuk selamanya. Saat ini aku merasa puas karena penantian, dan usahaku selama ini berbuah kebahagiaan.

Telah sekian lama aku merasa menanti Bayu menjadi milikku seutuhnya. Akhirnya, cerita cintaku saat ini sudah happy ending, tingal sekarang aku dan Bayu yang menjalaninya. Dulu kami sering sekali bertengkar, hanya karena hal-hal kecil, kadang kami sampai ribut nggak menentu. Dulu sebagai teman, kami memang bukan teman yang cocok, kami saling menjatuhkan dan saling membenci. Tapi sekarang, benar kata orang-orang, kalau kamu membenci seseorang janganlah kamu sampai terlalu, dan hasilnya sekarang perasaan itu menjadi kebalikan bagi aku dan Bayu, justru kami sekarang saling mencintai dan menyayangi. Tapi yang jelas, aku juga nggak mau kehilangan Bayu, aku takut juga kalau aku terlalu mencintai dan menyayangi dia, bisa jadi aku dan dia akan terpisahkan.



Hei Ela, kamu lagi ngapain? aku kangen deh sama kamu..”
“Halo Bayu, kan baru kemarin kita ketemu, kamu gimana sih?”
Ela, kamu baik-baik ya di sana, jaga diri kamu dan jangan pernah lupakan aku ya sayang.”

Kamu ngomong apa sih Bayu? Kamu ngigau ya?”
Nggak, maksud aku yah kamu jangan macam-macam di sana, kan di kampus kamu banyak banget tuh cowok-cowok keren, ntar ada yang godain kamu lagi, trus kamu lupain aku.”
“Ha-ha.....ha-ha.... ya nggak dong sayang, aku nggak akan tergoda sama cowok-cowok di kampus ini, nggak ada yang kayak kamu di sini, dan yang aku mau tuh cuma kamu seorang.”

Hei, kamu udah pintar ngegombal yah, siapa yang ajarin, ayo ngaku?”
Bayu, kamu apaan sih?! Udah deh, aku mau kamu kasih aku kepercayaan untuk berteman dengan teman-temanku. Asal kamu tau aku berterima kasih banget selama ini sama Tuhan karena aku udah bisa memiliki kamu.”
Iya Ela, dan asal kamu tau juga cintaku lebih besar dari yang pernah kamu bayangkan selama ini.”

Satu hal inilah yang selalu ditakutkan Bayu, dia selalu bilang aku akan tergoda oleh cowok-cowok di kampus, sementara aku nggak begitu? Justru akulah yang paling takut Bayu yang akan berpaling dariku, dia akan pergi meninggalkanku selamanya, dan cintanya hilang untukku. Bayu sekarang kerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di kota ini, sebagai cowok kalau kita melihatnya dengan kesan pertama, dia adalah cowok yang diimpi-impikan semua cewek, karena Bayu punya segalanya, dengan modal wajah yang tampan, prilaku yang baik, kerja yang mapan, akupun takut dia akan pergi dariku, kalau seandainya ada cewek yang lebih menarik dariku, lebih sederajat dengan dia.

Bayu menggenggam tanganku erat sekali, aku merasakan kenyamanan saat dia memegang tanganku. Aku merasakan cintanya begitu kuat untukku. Saat kami masuk ke sebuah toko buku, Bayu bilang dia akan membelikan aku sebuah buku sastra yang dulu sudah pernah dibacanya dan sekrang dia ingin aku juga membaca buku itu. Setelah Bayu membayar buku tersebut, Bayu langsung menyerahkannya padaku. Aku kaget membaca sinopsisnya, ternyata buku itu berisi tentang kekuatan cinta yang tulus, yang akhirnya terpisahkan oleh maut, dan bagaimana sakitnya hati seorang kekasih saat menghadapi peristiwa kematian itu.

Bayu, kenapa kamu kasih aku buku kayak gini?”
Ela, aku pengen banget kamu baca buku ini, karena kalau kamu baca buku ini, kamu bakal lebih mengerti lagi apa itu cinta sejati, kamu akan merasakan betapa sangat berartinya orang yang mencintai kamu, pokoknya ceritanya bagus deh, kamu pasti nggak bakalan nyesal kalau baca buku ini, dan setelah membacanya, aku juga yakin kamu akan semakin sayang sama aku, he-he... he-he ...”
Ih, kamu!! Ke-GR-an banget sih kamu, masa cuma gara-gara baca buku ini aku bisa semakin sayang sama kamu.”

“Eh, benaran, percaya deh sama aku. Kalau nggak, ntar kamu boleh musuhin aku lagi deh kayak dulu.”
Bayu!! Kamu ngomong apaan sih, ya udah-udah, aku baca bukunya, kamu kira aku bakalan senang yah kalau kita musuhan lagi.”
Bayu aneh sekali hari ini. Tadi siang dia ngomong yang nggak-nggak di telpon, dan malam ini dia juga menyuruhku membaca buku yang isinya aneh, tentang kematian. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, kata kematian terasa terngiang-ngiang di telingaku. Entah kenapa aku semakin ketakutan, takut akan kematian, takut akan kehilangan. Peganganku semakin aku kuatkan ke pinggang Bayu, aku peluk pungungnya dan aku sandarkan wajahku ke sana. Aku merasakan lagi kalau aku bersama Bayu, saat ini mungkin Bayu sedang tersenyum karena dia merasakan cintaku besar untuknya.
Sambil mengenderai motornya, sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihatku, Bayu seperti orang yang was-was. Aneh, di sepanjang jalan aku terus kepikiran. Dan akhirnya bunyi keras dan goncangan hebat membuat aku kaget, nggak hanya goncangan, tapi sakit yang luar biasa di kepalaku, aku merasakan pusing serasa dunia ini berputar sangat kencang sekali, penglihatanku kabur, aku berusaha untuk menyadarkan diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba aku melihat Bayu yang sedang tidur di jalanan, samar-samar aku melihat dia seolah-olah tidur nyenyak, aku merasa mimpi, mana mungkin Bayu tidur di jalan, perasaan baru tadi aku boncengan dengan dia. Aku berjalan mendekati dia, tapi orang-orang yang ramai lebih dulu menghampiri dia, aku semakin kesakitan, aku nggak kuat lagi dan akhirnya yang aku lihat hanya kegelapan.

Ela, kamu nggak apa-apa sayang, ini Mama.”
Aku pandangi wajah Mama. Dia seperti orang yang ketakutan, aku melihat sekelilingku, tiba-tiba aku baru sadar, selintas kejadian tadi malam teringat lagi olehku.
“Ma, Bayu mana? Dia baik-baik aja kan?”
Ela, nanti aja, kamu istirahat dulu, kamu masih sakit sayang.”
Nggak Ma, Ela nggak merasa sakit apa-apa, sekarang Ela mau lihat Bayu, dimana dia Ma?”
Ela, luka kamu belum kering betul, tadi kamu terus-terusan ngigau kalau kamu ngerasain sakit.”
“Ma, Ela nggak ngerasa sakit, benaran, nggak tau kenapa Ela ngerasa sehat dan kuat Ma, sekarang pokoknya Ela mau ketemu Bayu, pasti saat ini dia butuhin Ela banget.”
Ela, saat ini Bayu nggak butuh siapa-siapa lagi, dia udah aman Ela, dia udah tenang di sana, sekarang udah bahagia dengan kehidupannya sendiri, ada yang menjaga dia di sana.”
Apa? Apa Ma, maksud Mama? Mama bohong!! Ela nggak percaya, nggak mungkin, nggak mungkin itu terjadi sama Bayu, dia udah janji Ma nggak akan pernah ninggalin Ela, dia sayang Ela, Ela sayang Bayu Ma .... nggak, nggak mungkin....

Teriakanku membuat semua suster datang ke tempatku, mereka berusaha menenangkanku, tapi aku nggak bisa, air mataku mengalir terus tiada hentinya, salah seorang suster baru saja akan memberiku suntikan penenang, tapi cepat-cepat aku elakkan.
Tolong jangan suster, saat ini aku nggak butuh itu, aku hanya ingin menangis, aku nggak rela, aku marah sama Bayu, kenapa dia berani pergi ninggalin aku, padahal dulu dia udah janji nggak akan pernah pergi dariku, tapi kenapa Bayu bohong, kenapa sekarang justru dia pergi selamanya, dan aku tau dia nggak akan pernah kembali lagi kan untukku? Kenapa kamu tinggalin aku Bayu?”

Ela, ini udah takdirnya, waktu Bayu udah habis di dunia, kamu jangan pernah marah sama Bayu sayang. Kamu harus yakin kalau sekarang Bayu udah bahagia di sana.”
“Ma, kenapa justru Bayu, kenapa buka Ela aja yang ada di sana? Ela mau kok Ma, Menggantikan Bayu, karena Ela sayang sama Bayu Ma, atau biarkan Ela untuk bersama dia sekarang, Ela pengen menyusul dia Ma, Ela nggak mau hidup di dunia ini tanpa dia, percuma Ma, percuma kalau nggak ada Bayu di sini, hidup Ela nggak ada arti apa-apa.”

Dengan cepat suster-suster itu memegang seluruh tubuhku, dan sesaat kemudian aku tertidur, di alam mimpi Bayu datang padaku. Dengan pakaian yang serba putih Bayu tersenyum padaku, dia berjalan mendekatiku, dia kelihatan senang sekali, seolah-olah dia mendapatkan kebahagiaan yang baru, yang tiada duanya di dunia, melihat Bayu terus-terusan tersenyum, rasanya aku ingin sekali ikut bersama dia, ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Aku berusaha memeluknya dan menggenggam tangannya, dia membalas pelukanku, dia mendekapku, kembali aku meerasakan kenyamanan bersamanya, aku merasakan dia memberiku kekuatan, ketegaran, dia membelai rambutku dengan penuh rasa sayang, tapi pelan-pelan dia melepaskanku, dia justru menjauh dariku, semakin jauh, jauh dan hilang dari penglihatanku.

Saat aku sadar, aku menangis lagi, aku bukan menangis karena menahan sakit pada kepalaku, tapi aku menangis karena hatiku yang terasa amat sakit. Sekarang dunia bagiku terasa kelam, hujan nggak hanya membasahi bumi, tapi hujan membasahi kehidupanku, hatiku seolah-olah nggak berhenti menangis, menangisi orang yang telah pergi untuk selama-lamanya, dia nggak akan pernah kembali lagi.

Tiba-tiba mataku tertuju pada buku yang ada di atas meja, aku baru ingat kalau itu adalah buku yang dibelikan Bayu kemarin. Aku buka satu demi satu halaman buku itu, beberapa menit kemudian aku tenggelam dalam ceritanya. Aku menangis membaca buku itu, sekilas aku seolah-olah melihat wajah Bayu tersenyum di langit yang mendung di luar sana.

Entah kenapa sekarang aku kembali merasakan kekuatan itu, kekuatan cinta yang diberikan oleh Bayu, aku merasakan dia ada di dekatku, merangkulku, menenangkanku, aku dapat merasakan cinta dan sayangnya. Bayu, aku sangat mencintai dan menyayangi kamu, aku yakin kamu bahagia di sana, walaupun kamu sudah pergi dari kehidupanku, tapi kamu nggak akan pernah pergi dari hatiku, kamu abadi untukku, Bayu. Aku akan buktikan, kematianmu nggak akan pernah mengakhiri cintaku.***