Powered By Blogger

Laman

Rabu, 03 Juni 2009

Ijtihad

IJTIHAD

TA’RIF IJTIHAD
Ijtihad secara etimologi adalah berusaha keras untuk mencapai atau pemperoleh sesuatu, sedangkan mennurut pendapat para ahli fiqih ijtihad adalah berusaha keras untuk mengetahui hukum sesuatu melalui dalil-dalil al qur’an dan hadits, dalam kalangan ahli fiqih inilah yang menjadikan rujukan dan ta’rif ijtihad dikalangan indonesia…
Sedangkan menurut ahli usul fiqih adalah : mencurahkan kesungguhan untuk mendapatkan hukum syara’ dari suatu dalil tafsir dari dalil-dalil syar’iyyah.
Ijtihad pada masa sekarang sebetulnya masih sangat dibutukan kalau melihat permasalahan yang kompleks ini, tetapi kalau masa ini kita lihat nampaknya sudah jarang atau malah tidak ada ahli untuk memenuhi persyaratan menjadi mutjahid, kalau pun ada itu buka ijtihad secara mustaqil, tetapi ijtihad yang bersifat wujud, dalam masalah ijtihad, orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid.
Mujtahid adalah orang yang mencurahkan tenaga dan pikiranya untuk mendapatkan hukum syara’ dari suatu dalil tafsili yang dijadikan dalil-dalil syar’iyah.
Pembahasan ijtihad meliputi permasalahan agama, khususunya masalah-masalah atau kejadian-kejadian yang tidak ada NAS yang qat’I dalam al-qur’an dan hadits.
Dengan demikian jitihad dapat dilakukan dalam seluruh aspek kehidupan yang belum ada ketentuan yang jelas dan pasti, tidak hanya masalah ubudiyah saja tetapi masalah muamalah…
SYARAT-SYARAT MUJTAHID
Untuk memberikan pemahaman, supaya orang-orang yang akan melakuakan ijtihad tidak se-enaknya sendiri maka seorang mujtahid harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
• Mujtahid sudah baligh dan mempunyai intelejensi
• Mengetahui dalil aqal dan kehujjahan-nya
• Mengetahui bahasa arab
• Mengetahui ayat-ayat dan hadist yang berhubungan dengan hukum
• Mengetahui ilmu usul fiqih
• Mngetahui nasikh dan mansukh
• Mngetahui hukum-hukum yang telah diijma’I para ulama
• Mengetahu asbabul nuzul dan asbabul wurud
• Mengetahui kualitas hadits dan perawinya.
PERINGKAT MUJTAHID
• Mujtahid mustaqil
• Mujtahid muntasib, dalam mujtahid ini ada tingkatan-tingkatan mujtahid antara lain :
• Ashabut tarjih
• Ashabut fatwa
• Ashabut taujeh/wujuh

PEMBAGIAN IJTIHAD
• Ijtihad fardhi, dimana ijtihad yang dilakukan oleh seorang saja. Dasar ijtihad ini adalah hadis riwayat ahmad dan abu dawud yang memuat dialog Nabi dengan bin jabal, ketika Mu’adz akan diutus ke Yaman untuk memangku jabatan qodhi. Hadisnya sebagi berikut :
قال : كيف تقضى ادا عرض لك قضاء ؟ قال : أقضى بكتاب الله قال : فان لم تجد فى كتاب الله ؟ فبسنة رسول الله صم فان لم تجد فى سنة رسول الله صم ولافى كتاب الله ؟ قال أجتهد رأيى الو. قال فضرب رسو ل الله على صدره وقال الحمد لله وفق رسول رسول الله . سنن الدرامى , رقم 168
Artinya : Nabi muhamad Saw bertanya kepada Mu’adz : bagimana engkau memutuskan perkara apabila dihadapan kamu suatu permasalahan ? mu’adz menjawab “ aku akan putuskan dengan kitab Allah, bagimana bila engkau tidak mendapatinya dalam kitab Allah ? Mu’adz menjawab : aku akan menyelesaikannya dengan sunnah rosul allah, bagimana bila engkau tidak mendapatkannya baik dalam sunnah maupun dalam kitan Allah ? mu’adz menjawab saya akan berijtihad dan tidak bertindak sewenag-wenang, maka rosulullah menepuk-nepuk dadanya dan bersabda : maha suci allah yang telah memberi taufiq kepada utusan rosul Allah Saw. (Sunan al-Darimi : 168)
• Ijtihad ijma’I, dimana ijtihad dilakukan oleh sekelompok orang secara bersama. Misalnya adalah ijtihad yang dilakukan oleh para shohabat dimasa khulafaur rosyidin, lebih jelas lagi ketikan shohabat abu bakar menyelesaikan masalah zakat dimana kaumnya tidak memu menbayar zakat, pada hal dimasa Nabi mereka mau membayar zakat.
Menurut Mahmud Syaltout, Ijtihad dapat dibagi menjadi 2 :
1. Ijtihad dalam artinyan menggunakan segala kemampuan berfikir untuk menentukan hukum suatu perkara yang tidak ditentukan secara eksplisit dalam al-qur’an maupun as-sunnah. Contoh masalah Trasplantasi (pencanggokan anggota tubuh)
2. Ijtihat dalam arti menggunakan seluruh kemampuan berfikir sekedar untuk mengerti, menafsirkan dan mengambil kesimpulan dari suatu ayat atau hadis, contoh ijtihad para ulama untuk mengartikan/ menafsirkan ayat 6 surat al-Maidah. (‘au la mastumun nisa’).
KEDUDUKAN HUKUM IJTIHAD
Hukum ijtihad pada saat sekarang sangat dibutuhkan, dengan ijtihad hukum islam terus berkembang dan hidup sesuai dengan hukum, waktu dan keadaan. Dimana hukum ijtihad dapat melahirkan qiyas mapun ijma’…..ijtihad bukan hanya dibenarkan oleh agama, tetapi ia merupakan perbuatan yang terpuji , Nabi bersabda :
اذاحكم الحا كم فاجتهد ثم أصاب فله أجرن, فاذا جكم واجتهد ثم أخطاء فله أجر
(مسند احمد بن حنبل . رقم : 17148 )
Artinya : apabila seorang hakim memutuskan perkara lalu ia melakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenaran) jika hakim memutuskan perkara lalu ijtihad dan hasilnya salah, maka baginya satu pahala (pahala ijtihad) (musnad admad bin hambal : 17148)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar