Powered By Blogger

Laman

Minggu, 07 Juni 2009

Sejarah mafa

Di tepi jalan menuju lereng Gunung Muria, berdiri sebuah bangunan dengan kokohnya yang terlihat sangat megah dan padat akan lalu lalang santri yang sedang mengaji. Pondokan yang terkenal dengan nama “Manba’ul Falah” yang berarti sumber keberuntungan didirikan atas inisiatif KH. Ahmad Shiddiq.

Sejarah Singkat :
Pondok ini berdiri sekitar tahun 1971.Latar belakang KH. Ahmad Shiddiq mendirikan Ponpes. ini adalah karena banyaknya peminat ‘ilmu-‘ilmu agama, tetapi kurang didukung dengan fasilitas yang memadahi sehingga banyak anggota jamiyah Thoriqoh yang terabaikan dan sampai ada yang tidak kebagian tempat duduk & tercecer di jalan-jalan yang panas & penuh debu.
Untuk itu KH. Shiddiq merasa sangat prihatin atas keadaan tersebut, sehingga muncullah inisiatif untuk membentuksesuatu pondok yang diharapkan dapat berguna dan mampu mengisi kekurangan sarana tempat di wilayah tersebut.
Sebagai tindak lanjut atas inisiatif tersebut, beliau bersama warga masyarakat bergotong royong membangun pondok pesantren tersebut. Namun, dalam pelaksanaan nya ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
“Halangan demi halangan timbul dari faktor intern dan factor ekstern. Kendala dari faktor intern antara lain masalah keuangan, dimana masyarakat pada umumnya adalah masyarakat kelas menengah kebawah”, tutur Kang Arifin, seorang pengurus Manba’ul Falah. Selanjutnya kendala dari factor ekstern adalah adanya segolongan masyarakat yang tidak setuju atas pembangunan pondok tersebut.
Kebenaran akan selalu menang, walaupun banyak penghalang namun, kenyataannya bisa berdiri dan berkembang sampai sekaramng . Sekiranya sepatah itulah yang mampu menggamkbarkan perjalanan pembangunan pondok pesantren Manba’ul Falah yang penuh liku.
Seiring berjalan sang waktu,pendidikan di Ponpes Manba’ul Falah semakin maju. Terbukti semakin banyaknya santri yang berminat mneuntut’ilmu di ponpes tersebut.
Menurut Nurulhikmah, kualitas pembelajaran di Ponpes Manba’ul Falah sangat bagus karena ponpes ini banyak menggunakan kitab 2 kuning seperti : Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Al-Fiah,majalisut tsaniayah dll.
Gadis asal Japan ini menjelaskan seminggu 3 kali kami menggunakan bahasa Arab, bahasa inggris , dalam berkomonikasi ,bagi yang melanggar ada sangsi tersendiri” jelasnya.
Untuk menjaga stabilitas keamanan di lingkungan pesantren , maka dibentuk lah system peraturan yang sangat ketat antara lain siswa tidak boleh memberi apaun kepada lain jenis baik berupa uang maupun barang.” Kami di sinimembuat peraturan bukan untukmenyiksa, melainkan untuk memodifiaksi kepribadian para santri agar menjadi insan yang lebih baik”tutur Kang Arifin selaku pengurus besar PP. Manba’ul Falah sekaligus seorang guru multi fungsi yang berkulit putih.
Guru yang hobi pakai sarung itu juga menjelaskan bahwa dengan adanya peraturan-peraturan tersebut , diharapkan para santri dapat memanage waktu dengan baik supaya tidak kacau balau dalam menuntut ’ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar